Assalamualikum wr wb
Semangatnya sich boleh juga, membuat semacam gerakan pembaharuan, kontrol sosial melalui blog.
Berangkat dengan niat menggantikan striker nya yang patah kaki, saya malah miris, cenderung pesimis blog ini akan menjadi se populer senior nya.
Di awal-awal saja, komunitas ini malah cuma bisa mengcopy menulis ulang gaya satire sang senior. Salah satu nya postingan lama basi yang di daur ulang dengan gaya yang malah lebih hambar.
Yang lebih parah, sesungguhnya mereka tidak faham inti permasalahan sesungguhnya, sehingga bagaimana mereka mau membuat solusi.
Sebagai contoh, mereka membuat kritik tentang masjid, tetapi mereka bukan ahli mesjid, mereka cuma lewat depan mesjid, bagaimana mereka bisa tau keadaan di dalam mesjid.
Dan gaya-gaya penulisan dengan menghujat orang lain, kelompok lain, membuka buka aib orang lain, adalah gaya penulisan yang melelahkan, butuh banyak energi, dan mereka bukan type-type penulis yang punya power untuk bertahan dengan aktivitas seperti itu.
Saran saya, kalau ingin bertahan hidup lebih lama buat lah postingan yang mencerahkan, dengan bahasa bijaksana.
Kita tau betapa Dzalimnya FIRAUN Laknatullah Alaih, tetapi ALLAH kirim Nabi Musa a.s untuk berdakwah kepada FIRAUN dengan lemah lembut, dengan hikmah, tanpa mencaci, memaki.
Lantas ummat saat ini, baik pejabat nya maupun rakyatnya, atau siapa pun yang dianggap kelompok ini sebagai pendzalim BERAT, apakah tingkat kedzaliman nya sudah dianggap melebihi FIRAUN?????
Bertuturlah dengan lembut, dengan bahasa yang bijak.

Juni 11, 2007 pukul 7:14 am |
sebenarnya Ma setuju lho wak dengan ide melawan keburukan dengan cara yang baik,, tapi mungkin cara tiap orang beda beda,, (mungkin juga sebagian udah depresi ngeliat kelakuan tertentu yang mengatasnamakan sesuatu yang mulia demi hal yang salah),,
Ini saran ya wak?? (kok Ma bacanya kaya anceman ya,, Ma suka berasa rasa nih,,) moga moga aja semua bisa belajar nulis lebih bijaksana,,
Kalo ga,, gimana kita belajar dari wak somad aja gimana caranya mengkritik dengan bijaksana,,
makasih,,
Juni 11, 2007 pukul 7:29 am |
Kalau menurut saya, yang saya anggap positif adalah bahwa sekarang semua orang bisa menulis tulisan dekonstruktif, bukan hanya satu-dua orang saja. Intinya adalah semuanya bisa melek, itu dulu
Soal kualitas, ketimpangan memang tidak bisa dihindari. Mengingat calon mayat yang satu ini adalah hasil kerja banyak orang, kualitas tulisannya tentu beragam
Tidak apa, itu malah bagus. Mereka tidak menunggu-nunggu untuk protes. Kalau untuk bisa membongkar bobroknya sistem pemerintahan Indonesia, kita mesti jadi pejabat dulu, kapan perubahannya?
Yang jelas, pandangan beberapa masjid dari luar itu seperti itu. Dan tidak ada asap tanpa api
Juni 11, 2007 pukul 7:42 am |
Assalamualaikum wr wb
Kita sama sama belajar neng MA..
Juni 11, 2007 pukul 7:48 am |
Yang disini.
Yang disana.
Yang dimana-mana.
Ternyata sama saja.
Dikelilingi oleh prasangka.
Cobalah diam barang sejenak. Pikir itu pelita hati.
Juni 11, 2007 pukul 7:54 am |
@Gedoe
Sungguh suatu pandangan yang keliru, bahkan analogi yang digunakanpun keliru.
Yaah beginilah jadinya kalau cuma ngeliatin asapnya, jadi mata si pengamat jadi kelilipan asap. Nggak jelas lagi objek pengamatan.
Saya sudah berulangkali mengomentari, dalam perkara apa saja.
Lihat dahulu sampai terang.
Baca dahulu hingga selesai.
Baru kemudian komentari, ceritakan, sampaikan atau tuliskan.
Jangan baru melihat 20%, lalu sisanya yang 80% cukuplah digenapkan saja dengan khayalan, prasangka dan angan-angan. Ini sungguh suatu kebodohan.
Kapan bangsa ini mau berubah.
Juni 11, 2007 pukul 7:54 am |
Assalamualaikum wr wb
Kebebasan menulis bukan berarti bebas mencaci dan menghujat, menelanjangi siapa saja. Sebagai mahkluk sosial kita memang BEBAS sesuka hati berbuat. Sebagai Makhluk TUHAN, ALLAH Azza Wajalla, kita punya batasan, punya adab, dalam bicara, dalam menulis dalam bergauL.
Pertimbangkan Fitrah kita sebagai manusia, makhluk ALLAH yang AKAN MATI, kembali padaNYA dan mempertanggungjawabkan semua “postingan” kita selama di dunia.
Postingan yang baik adalah bagaimana kita mengkritik diri sendiri, untuk perbaikan diri sendiri…
Juni 11, 2007 pukul 9:27 am |
Wahai Somad, anda mengangkat sikap Nabiyulloh Musa terhadap Fir’un, namun kenapa melupakan sikap Nabi Musa kepada Saudaranya Harun yang diceritakan dalam Ayat berikut ini,
و ألقى الألواح و أخذ برأس أخيه يجره إليه
<em>“Dan Musa pun melemparkan luh-luh (lembaran-lembaran Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menarik kearahnya.”</em> [Al A’raf : 150]
Nah, terus apakah anda akan mengatakan bahwa Nabi Harun adalah lebih Dzolim dari Fir’aun sehingga tidak pantas diperlakukan lemah lembut ????
Juni 11, 2007 pukul 9:43 am |
Assalamualaikum wr wb
Wahai laki-laki pengecut, yang selalu sembunyi diketiak ibu nya.
Tak kau lihat kah AKhlak Rasul mu? Muhammad SAW? di ludahi di caci maki, di lempari kotoran onta?
Tak sampaikah pelajaran akhlak mu kesana? atau kau punya Nabi Lain untuk kau contoh?
Juni 11, 2007 pukul 9:43 am |
Assalamualaikum wr wb
@Abu Aqil Al-Atsy
Wahai laki-laki pengecut, yang selalu sembunyi diketiak ibu nya.
Tak kau lihat kah AKhlak Rasul mu? Muhammad SAW? di ludahi di caci maki, di lempari kotoran onta?
Tak sampaikah pelajaran akhlak mu kesana? atau kau punya Nabi Lain untuk kau contoh?
Juni 11, 2007 pukul 9:50 am |
@ Abu Aqli Al-Atsy
menurut Ma itu harus diliat dari asal usul turunnya ayat itu,,
masalahnya, lanjutan ayat itu,,
Musa berdo`a: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” [Al A'raf 150]
dan menurut Ma ga ada salahnya berusaha berbuat baik dalam mengkritik ataupun menghadapi sikap negatif orang lain,,
makasih,,
Juni 11, 2007 pukul 9:53 am |
Abu Aqil Al-Atsy :::
oh, lagi ngajak untuk saling mencaci dan jambak2an neeh?
waksomad:::
aduh, kalo pramur dibilang niru, ya nggaklah. coba baca tulisan2nya pramur di blognya sendiri. gayanya memang kayak gitu. mereka setipe. kalo wadehel itu stevie gerrard, pramur itu mungkin frank lampard. tipenya sama. sama2 destroyer dari lini kedua. analoginya gitu lho, wak!
diliat lebih luas lagi, wak. satire itu salah satu gaya bahasa dalam membuat suatu prosa. sah2 aja dalam sastra
udah pernah melakukannya, wak? kalopun udah, apa sudah pernah ada usaha untuk perbaikan? mengingat selama ini nggak sedikit lho yang……..ah, nggak jadi. wak kira2 aja sendiri apa efek postingan2 wak buat orang lain. bukan konten inti postingannya, lho. tapi kegiatan yang rutin wak lakukan tiap kali wak bikin postingan
Juni 11, 2007 pukul 10:19 am |
waks, ada perang baru lagi ????????
Juni 11, 2007 pukul 10:50 am |
Beginikah akhlaq orang yang mengaku melihat akhlak rosululloh ??? Alangkah Jauh panggang dari Api.
Juni 11, 2007 pukul 11:30 am |
mas Abu Aqil,, komen yang lain buat mas ditanggepin dong,,
Juni 11, 2007 pukul 1:26 pm |
TENG TENG TENG!
Bubar, bubar, bubar!
Cakar-cakaran mulu, ga malu apa sama tetangga.
Segala pake kata duhai, wahai, aduhai, sesungguhnya.
Eman eman Mas!
Nyebut, but, but, but, but
Juni 11, 2007 pukul 2:46 pm |
Wak…wak…. Kok malah berantem sih?Ngakunya “ustad”… Jadi sedih nih.. tulisan yang maksudnya baik, ujung2nya malah bikin berantem. Yuk, kita introspeksi diri masing2..
Juni 11, 2007 pukul 5:37 pm |
aku bukan ustadz lho. jadi kalo ada tawuran aku boleh ikutan, kekekeke
Juni 12, 2007 pukul 2:51 am |
Wak, sebel kok mbajak sih?
Cinta apa sebel nih…
Hayo.. Hayo…
Suit-suiiittt~
Juni 12, 2007 pukul 5:28 am |
Suruh aja bikin postingan yang lebih baik dari omaigat… apakah postingan ini lebih baik dari postingan di omaigat… WHos know…. He he he
.
Juni 12, 2007 pukul 6:54 am |
Assalamualaikum wr wb
Saya juga bukan “ustadz”, saya cuma marboD
Juni 12, 2007 pukul 9:30 am |
[...] Aqil Al-Atsy Says: Juni 11th, 2007 at 9:27 am editWahai Somad, anda mengangkat sikap Nabiyulloh Musa terhadap Fir’un, namun kenapa melupakan [...]
Juni 12, 2007 pukul 2:22 pm |
ada apa neh rame-rame
Juni 13, 2007 pukul 1:58 am |
Assalaamu’alaikum wr.wb.
Numpang nimbrung nih Wak…
Wah, saya tak berniat menghujat. Begitu pula wadehel. Mungkin karena kita hidup dengan latar belakang yang berbeda, jadi kita kurang bisa memahami orang lain (yang berbeda). Gaya penulisan satire, sepaham dengan Joesatch, memang perlu dicermati dengan seksama <strike>dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja</strike>.
Kami, redaksi omaigat, bukan bermaksud meniru-niru wadehel, atau bermaksud meraih kepopuleran. Mungkin wak somad punya persepsi berbeda soal omaigat. Tapi, tak apa, kami siap membuka kotak pandora, demi menerima kritik dan saran dari Wak. Silahkan baca pula profil kami. Silahkan juga baca visi misi kami.
Karena tulisan di atas ibarat dari redaksi omaigat, sekarang giliran yang dari saya.
Saya, pramur, bukan bermaksud meniru-niru. Seperti yang dikatakan bung joesatch. Kalau Anda baca tulisan saya, gayanya memang sama dengan wadehel. Tak bolehkah dua orang memiliki gaya tulis serupa. Btw, wadehel juga bilang, “Jangan2 kita ini orang yang sama?”
Kalau masalah mayat dan mati, semua dari kita pasti begitu wak. Saya tahu, saya ini cuma orang Islam baru yang tak tahu apa-apa:ngaji ga lancar (tapi saya selalu belajar), ga hapal hadits yg banyak, ga hapal Jus amma, dsb. Tapi, saya mencoba untuk selalu hidup berguna. Bikn tutorial, ngajakin orang untuk meninggalkan lagu bajakan, OS bajakan, Software bajakan. Misi saya nyaris sama (lagi-lagi) dengan wadehel.
Insya Allah, kita bisa membangun sama-sama bangsa ini dengan gaya dan selera masing-masing. Sayangnya, masing-masing kita terlalu sombong untuk menerima perbedaan. Ingat dosa pertama yang dilakukan Iblis? Yup. Karena kesombongannya, tak mau bersujud ke Adam.
Tentu saja kami, redaksi omaigat, menerima kritik sebrutal apapun. Tapi, meminjam istilah pedagang “nawar boleh, tapi ga dikasih”
Wassalaam
Juni 13, 2007 pukul 4:44 am |
Assalaamu’alaikum wr.wb.
Numpang nimbrung nih Wak.
Thanks berat alias jazakallah atas respon yang cepat Wak. Kalau ada pemilihan Marbot tertanggap sejagat, pasti saya pilih Wak.
Bener sekali Wak, saya ini cuma lulusan perguruan kekecewaan mereka. Siapa mereka? Ya itu.. Oknum. Dan saya yakin, banyak orang yang telah “belajar” di perguruan tinggi semacam itu. Akibatnya, gejala-gejalanya mirip saya dan wadehel.
Solusi?
Juni 13, 2007 pukul 8:12 am |
Loh, lah wong pembuat bid’ah kok tidak mau dibid’ahkan ? Kalao orang lain gak mau dibid’ahkan, ya jangan buat bid’ah dong. saya juga dulunya gak seneng dibid’ahkan, trus sadar, kenapa mereka membid’ahkan saya ? Oh, Rupanya karena saya membuat bid’ah.
Ternyata Adil kok.
Ente menyebut salafiy di indonesia sebagai salafy tanggung?? coba ente sebutkan karakteristik salafiy yang bener2 udah mateng tu gimana?? hayooo kalau antum benar, silahkan tunjukkan bukti2nye. albaqorah:111
Juni 13, 2007 pukul 8:37 am |
@ Semua orang yang marah – marah
Aku tak mengerti, kalian lebih suka mencaci maki ketimbang meluruskan masalah. Masa predikat “semuanya salah” harus ada…?”
Juni 13, 2007 pukul 10:21 am |
waduh pesta rakyatnya masih berlanjut neh?
pesan saya:
sesama orang salah dilarang saling mendahului.
Juni 13, 2007 pukul 5:11 pm |
“Kita tau betapa Dzalimnya FIRAUN Laknatullah Alaih, tetapi ALLAH kirim Nabi Musa a.s untuk berdakwah kepada FIRAUN dengan lemah lembut, dengan hikmah, tanpa mencaci, memaki.”
klo gak salah dibawah kepemimpinan FIRAUN dan nenek moyangnya dan keturunannya lah peradaban Mesir memimpin dunia selama 3000 tahun, dan 1000 tahun berturut2 diantaranya tanpa perang sodara. Pada masa tersebut teknologi, arsitektur, seni, ketatanegaraan, pertanian, religi melebihi batas2 kemajuan yang bisa dibayangkan manusia sekarang. dan saya setuju mengatakan bahwa kejayaan Firaun dan Mesir adalah kejayaan umat manusia.
Mustahil kiranya sesuatu yang dibangun diatas kezaliman bisa bertahan begitu lama dan megah.
Salam.
Juni 14, 2007 pukul 8:41 am |
Jawaban atas komentar ana bolak balik di edit toh? hihihihihihihi Tanya Kenapa ???
Ana coba koreksi ya, tentang cara penulisan bahasa Arab dari kata “Abdu” dan “AsSomad”. Jadi karena kata tersebut digabungkan dalam bentuk “Mudhaf dan Mudhafun ilaih” Jadi yang benernya “Abdussomad” maka “tidak benar” jika ditulis/dibaca dengan “AbdulSomad” Karena ini Alif lam Syamsiah. Makanya kalau saya sebut dengan somad aja gak papa, la wong anda nulisnya aja salah (asal2). hehehehe
Juni 14, 2007 pukul 3:36 pm |
ayo kita tawuran aja, wak.
wak maju duluan. saya liat2 situasi dulu!
Juni 15, 2007 pukul 2:28 am |
Assalaamu’alaikum
Numpang nimbrung nih Wak…
@ joesatch
Kalo masuk rumah Wak, asalamolekom dulu
*jewer*
@ Wak
Saya masih bingung arti JUKLAK wak… Wak. wadehel itu tulisannya keren naujubilah. Kalo saya mah cuma gurem aje…
Juni 15, 2007 pukul 10:59 am |
Lalu dengan begitu anda bebas menyebut nama-Nya seenak perut…?
Juni 15, 2007 pukul 11:02 am |
Wah, ini logika baru yang perlu dipelajari.
Kalau ada orang yang ’salah sedikit menulis nama Tuhan’, berarti nama-Nya tersebut boleh disebutkan tanpa rasa hormat.
Juni 15, 2007 pukul 11:04 am |
Juni 15, 2007 pukul 11:04 am |
Salafy itu siapanya Tuhan…?
Juni 15, 2007 pukul 1:01 pm |
Assalaamu’alaikum wr wb
wadoh banyak tamu, rumah wak ndak ada kursi, kursi juga bid’ah he he …
jadi duduknya di lantai aja ya…
nanti wak jawab satu satu
Juni 16, 2007 pukul 2:08 pm |
Wow…….sejak kapan ada fatwa yang mengatakan kursi adalah bid’ah wak?Wah sepertinya wak mulai mengada-ada nih… Bisa dimarahi tuan Abu lho… hehhehehehhehe… No offense.
Juni 24, 2007 pukul 10:27 am |
Assalamualikum wr wb
Iya nich, mesti banyak Istighfar, wak jadi emosi-en kalo liat kelompok abu abu gitu, mengatas namakan Islam tapi kelakuan munafiq.
________________________________________________
wa’alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh
munafiq gimana mas? mohon penjelasan ^^ belum ngeh …
bukan bermaksud untuk bikin api lagi
hanya menghilangkan prasangka hati
sabar ya semua
Juni 30, 2007 pukul 2:45 pm |
@ Geddoe
mungkin karena salah satu huruf jadi ga dianggep nama Tuhan lagi,,
tapi kalopun itu bukan salah satu nama Tuhan, emang tetep boleh disebutkan dengan ga hormat ya?
Juni 30, 2007 pukul 6:37 pm |
hem……….
Juli 4, 2007 pukul 1:14 pm |
yaaa, anteng-anteng wae lah…
Juli 5, 2007 pukul 8:27 am |
LHA APA SOMAD INI MINTA DIPERLAKUKAN SEPERTI FIR’AUN? YA SUDAH , TUNGGULAH ORANG SEPERTIMU DIBENAMKAN ALLAH AZZA WA JALLA KE DALAM LAUT. MAKA SEBETUL AJAL ITU TIBA, TAUBATLAH DARI KEBID’AHAN ANDA INI SOMAD! TIDAK PANTAS ANDA BERCELOTEH DI BLOG, SEDANGKAN ANDA INI TUKANG TIPU. MENIPU UMAT. LEBIH JAHAT DARI PENJAHAT DAN PERAMPOK EMAS.
Juli 5, 2007 pukul 9:01 am |
@ Joesatch
ayo kita tawuran aja, wak.
wak maju duluan. saya liat2 situasi dulu!
KOK NGAJAK TAWURAN SESAMA MUSLIM SIH!!!!!
Berarti joesatch ini termasuk kelompok yang menghalalkan darah kamu muslimin? sehingga demennya ngajak tawuran, berantem, dan menumpahkan darah saudaranya semuslim? Begitukah? Demen yang ribuk-ribuk dan berbau kematian? Mirip slogannya Imam Samudra. Apa Bangjoesat ini teroris khawarij? Awassssssssssss! Waspada teman-teman sama arek satu ini!
Oktober 6, 2007 pukul 4:24 am |
[...] sampai hitungan tahun postingan ini saya buat, dan belum lagi mayat yang menghebohkan itu dikubur, mayat-mayat lain sejenis itu mulai [...]