Assalamualaikum
Postingan ini saya buat sebagai tambahan comment yg mungkin akan terlalu panjang dan tak terbaca kalau saya buat di postingan bung farid ini, khususnya saya terkesan pada penggalan postingan yg berbunyi :
……. Orang yang modalnya cuma iman. Hasilnya adalah fanatisme buta, membungkus nafsu binatang dalam diri dengan pembenaran agama, hadis/ucapan pemuka agama/orang yang dianggap suci dan disakralkan, berikut ayat ayat kutipan dari kitab suci. Mencaci, menghujat, mengkafirkan. Hingga membantai sesama manusia dengan alasan agama demi mengejar janji surga.
Perkara IMAN adalah perkara BESAR, perkara Serius, bukan perkara main main, karena apabila manusia mati tidak membawa Iman dia akan celaka selama lamanya di dunia mau pun di akherat.
Manusia yang paling faham dalam perkara Iman adalah para Ambiya dan para Nabi, termasuklah juga di dalam nya penghulu para nabi, Nabi Muhammad shollallaahualaihi wassalam.
Manusia yg ber-Iman akan terlihat dalam implemantasinya dalam Amal, Amal Sholeh, tidak benar bila manusia yg ber IMAN akan menjadi seperti dalam block quote di atas, baik dengan logika maupun tanpa logika, justru manusia yg disebut seperti itu adalah manusia yg tidak ber-Iman.
Manusia yg ber-Iman adalah manusia yang mempunyai sifat Yakin yang sempurna Kepada ALLAH, dia akan yakin bahwa ALLAH Yang Maha Menciptakan, ALLAH Yang Maha Memelihara, ALLAH Yang Memberi Rezeki.
Manusia yg ber-Iman akan mempuyai Sifat Taat kepada perintah ALLAH, akan mempunyai Sifat Sabar dan Mahabah, kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan ALLAH.
Untuk menjadi manusia ber-Iman tidak selalu memerlukan LOGIKA, dan orang dengan IMAN yang sempurna justru mengabaikan Logika.
Tengoklah Sahabat Abu Bakar r.a, sahabat Rosul yg memiliki Iman Sempurna, ketika sampai pada beliau berita tentang perjalanan Nabi Muhammad ke Masjidil Aqsho yang dilakukan dalam satu malam, beliau langsung percaya, langsung meYAKIN-i, langsung meng-IMAN-i.
Beliau tak gunakan Logika, tak minta penjelasan Logis? bagaimana itu bisa terjadi di jaman belum ada kendaraan cepat seperti sekarang ini.
Iman adalah KEYAKINAN, dan tak memerlukan LOGIKA, Iman adalah Sifat Yakin akan ADA NYA ALLAH, Yakin akan Kekuatan ALLAH, Kehebatan ALLAH.
Tengoklah 313 Ahlul Bad’r yg minim perbekalan, minim persenjataan tetapi, dengan Iman nya yg sempurna berani menghadapi 1.000 tentara Quraish dengan persenjataan lengkap.
Tengoklah Sahabat Zaid bin Haritsah r.a, Ja’far bin Abu Thalib, Abdullah bin Rawahah r.a, tak memerlukan alasan logis ketika membawa 3.000 tentara untuk menghadapi 100.000 tentara Heraclius dalam Perang Mu’tah.
Tengoklah Sahabat Khalid bin Walid r.a cuma butuh 60 orang untuk menghadapi 60.000 tentara Arab Badui bayaran Romawi.
Dan yg paling penting …..
…… fanatisme buta, membungkus nafsu binatang dalam diri dengan pembenaran agama, hadis/ucapan pemuka agama/orang yang dianggap suci dan disakralkan, berikut ayat ayat kutipan dari kitab suci. Mencaci, menghujat, mengkafirkan. Hingga membantai sesama manusia dengan alasan agama demi mengejar janji surga.
Ini bukan sifat org ber IMAN, baik dengan logika maupun tanpa logika.
Dan Kalimat dibawah ini
Orang yang modalnya cuma iman. dst dst dst
Kalau bisa, jangan lagi ditambah embel embel, karena cukup dgn Modal Iman saja manusia akan selamat dunia dan akherat . . . . baik dengan Logika maupun tanpa logika.
Dan orang yg terakhir masuk surga, dengan IMAN sebesar biji sawi, akan mendapatkan kerajaan di surga seluas 10 kali dunia, tanpa persyaratan harus memiliki logika.
Justru dengan pendidikan Iman lah sahabat Rasulullah yg dulu nya seperti binatang itu malah menjadi kekasih kekasih ALLAH…
Mohon koreksi bila saya salah …
Dan saya mengundang diskusi bersama bapak bapak berikut ini (mohon bagi maaf yg tak sempat masuk di track beck)
*) Diupdate 1 kali

Maret 4, 2008 pukul 2:38 pm |
Alhamdulillah ada targipan orang-orang lama
Maret 5, 2008 pukul 3:50 pm |
Akal itu terbatas. dan se-genius-geniusnya manusia akan tersesat jika tidak melandasi akalnya dengan keimanan…
Mohon dikoreksi juga jika pendapat ini melenceng..
Wallahu a’lam
Maret 7, 2008 pukul 5:59 pm |
Wak, saya mengerti, Uwak berusaha menyederhanakan perkara Islam, supaya Islam bisa mudah dipahami dan mudah diterima semua orang.
Mungkin benar, Islam cukup dengan Iman.
Mungkin benar, Islam cukup dengan Amal.
Mungkin benar, Islam cukup dengan Ihsan.
Tapi apakah merasa cukup itu sifat manusia, Wak?
Maret 11, 2008 pukul 6:43 pm |
[...] tersentil dari tulisan [ini] dan [ini] [...]
Maret 12, 2008 pukul 3:08 am |
Saya setuju Pak,..bahwa Iman tidak memerlukan logika,…dan iman tidak bisa dilogika-logikakan,….bisa gila nantinya klu berlogika dengan iman,……
Maret 20, 2008 pukul 2:37 am |
Justru dengan pendidikan Iman lah sahabat Rasulullah yg dulu nya seperti binatang itu malah menjadi kekasih kekasih ALLAH…
Apakah “pendidikan” seperti yang bapak tuliskan itu tidak memerlukan logika sebagai penyelaras iman?
Jikalau benar tidak memerlukan Logika, kalau begitu koreksi dong tulisannya. Harusnya: Justru dengan Iman lah sahabat Rasullah yg dulu nya seperti binatang itu malah menjadi kekasih ALLAH
Saya boleh bertanya bukan?
Apakah para yang seperti binatang tadi itu dididik hanya dengan iman? Sementara yang seperti binatang itu tadi aslinya tidak beriman sama sekali, hanya punya logika.
Kalau memang yang seperti binatang bisa dibuat beriman tanpa logika. Tolong carikan fakta tentang kambing atau anjing yang jadi muslim tanpa perlu diceramahi. cuma dibawakan iman. Apakah ada?
Tolong carikan juga bandit tengik atawa tukang jagal berdarah dingin yang mau beriman cuma dengan ditakut takuti pakai ancaman azab neraka dan diiming imingi bidari surga yang konon katanya selalu perawan. atau dibawakan kisah isra mi’raj yang konon ajaib itu. Apakah ada?
dan kenapa masyarakat Indonesia yang konon banyak yang beriman malahan banyak yang miskin? Bukankah miskin berarti bodoh? dan bodoh artinya cuma makan iman tanpa mau belajar berlogika… Bukan begitu Pak?
Maret 21, 2008 pukul 1:59 am |
MasyaALlah, Wak,,,,,dari komentar2 yg ada pada tingkatan generasi yg berbeda adalah gambaran kita, betapa kita ini belum sungguh2 dalam silaturahmi 2,5 jam kepada saudara muslim kita. gimana nih wak,,,?? ( narghib mode
)
Maret 22, 2008 pukul 3:00 pm |
Saya tau kok kisah Umar bin Khatab. Tapi apakah Umar bin Khatab milenium ada Pak?
Dari jawaban bapak terhadap saya, nampaknya bapak meyakini bahwasanya dengan rajin ibadah bisa membuat orang pandai. Jadi hidup ini isinya ibadah saja ya Pak? Ga perlu yang lain?
Jadi orang dengan rajin beribadah bisa pintar tanpa perlu belajar?