Assalamualaikum…
Saya memang selalu tertarik dengan bahasan yang berhubungan dengan Iman, dengan Keyakinan.
Keyakinan manusia saat ini, Iman manusia saat ini, sungguh sedang dalam keadaan rusak.
Manusia saat ini ber-Keyakinan (ber-IMAN) bahwa dia akan bahagia bila dikelilingi oleh kebendaan, bila disekitarnya banyak benda benda, seperti uang, rumah, mobil, kecantikan, dan segala macam benda.
Iman (Keyakinan) seperti ini adalah Iman yang salah yang (bathil), dan apabila manusia mati dengan Iman seperti ini, maka dia akan celaka.
Padahal sesungguhnya Kebahagiaan manusia telah ditetapkan oleh Tuhan nya, Dzat Yang Maha Menciptakan manusia, ALLAH Subhaanahuu wataala. Bahwa manusia hanya akan bahagia bila dia dekat dengan Tuhan nya, bila dia dekat dengan ALLAH, mau Taat kepada perintah ALLAH dan mau menghindari larangan larangan ALLAH.
Pada tahapan ini Iman memang masih memerlukan LOGIKA…..
Bersambung

Maret 11, 2008 pukul 6:06 am |
Iman, Ilmu, Amal, Ketiganya harus lah sejalan….
Maret 11, 2008 pukul 6:29 am |
Saya setuju wak .. keimanan saat ini patut kita pertanyakan .. makanya saya telah menulis serial tentang ini dengan judul : 1). Ketika jiwa tanpa raga, 2.) Ketika jiwa dengan raga, 3). Raga dipuja, selanjutnya jiwa kemana dan seterusnya.
Maret 11, 2008 pukul 9:34 am |
karna menurut saya manusia yang berIman itu manusia yang bisa membuat iman logis wak..
Maret 11, 2008 pukul 9:53 am |
Ane jadi inget ama nasihat Kanjeng Nabi SAW: “Iman dibantu dengan ilmu, ilmu dibantu dengan akal, akal dibantu dengan sifat lemah lembut… (al Hadist)”.
Logika adalah kemampuan yang muncul dari pendayagunaan akal. Akal akan semakin kuat posisi dan daya fikirnya ketika akal disinergikan dengan qolbu. banyak sekali hadist yang secara langsung maupun tidak langsung memerintahkan kita menggunakan akal dan atau logika. Salahsatunya adalah perintah untuk berfikir; “tafakkaruu fii dzaatillah, walaa tatafakkaruu dii khloqillah”. (fikirkan oleh kalian ciptaan-ciptaan Allah, dan jangan kalian memikirkan Dzat Allah).
Dalam al-Quran sendiri, Allah SWT seringkali mempertanyakan pemanfaatan akal yang telah diberikan-Nya kepada manusia. Kalimat ulul albab, atau afalaa tatafakkaruun, afalaa tatadzakkaruun dan yang semakna dengannya, membuktikan bahwa iman memerlukan akal dan logika untuk memahaminya.
Bahkan, secara tegas, Allah SWT menyatakan bahwa keutamaan penciptaan manusia dibanding makhluk lainnya adalah adanya potensi akal. Dengan akal, manusia akan dapat belajar mengenal Tuhannya. Nabi Ibrahim dan bahkan Kanjeng Nabi SAW adalah contoh nyata manusia yang “menemukan” Tuhan dengan berfikir. Maaf kalo ane keliru ya Wak…
*ditendang Wak Dul*
Maret 11, 2008 pukul 8:37 pm |
Iman yang Sedang rusak kok ke saya, mad?? Si somat ada-ada aja.. Sedang rusak berarti pernah bener yak??
Maret 12, 2008 pukul 1:58 am |
Logikanya mana ada bapak mau menyembelih anaknya sendiri. Tapi justru karena keimanan dan ketaatan hal itu mungkin terjadi.
Maret 16, 2008 pukul 1:42 pm |
coba nanti sayah tanya sama mas Iman..
Kemana logikanya dia sekarang..
Mungkin lagi dimasukin bengkel..
April 1, 2008 pukul 6:26 am |
lha kalau logika itu tidak diperluken kenapa Allah membekalkannya pada manusia, mubadzir…. padahal tidak ada yang sia-sia dalam segala ciptaannya.
April 1, 2008 pukul 6:35 am |
@zahra
assalamualaikum
logika itu untuk meningkatkan IMAN
bukan utnk perkara lain lain
April 12, 2008 pukul 4:27 am |
Saat sahabat baru masuk islam yang pertama di bina oleh Rosull adalah iman mereka! ilmu adalah penting agar iman kita lebih terjaga san terpellihara. Ketika akal kita terbentur dengan iman maka kita harus mengutamakan iman. BUkan kah kita Harus mempercayai (Dalam rukun iman) sesuatu yang tak masuk logika. Tanpa harus mengecilkan logika mari kita pelihara iman dan kita cari ilmu. Semoga Allah memafkan kesalah kita, kerena tak ada manusia yang sempurna.