Assalamualaikum..
Prihatin terhadap sinis nya tanggapan Ummat Islam sendiri saat ini terhadap solusi AGAMA dalam menyelesaikan permasalahan dunia dan akherat dan juga untuk mempertegas maksud pada postingan sebelum ini, maka saya coba tambahkan sedikit lagi apa sih ciri ciri orang ber – IMAN itu.
Sementara penafsiran kawan kawan blogger sendiri tentang orang ber IMAN saat ini memang menyedihkan sekali, tengoklah penafsiran Bung GUH praset ini, atau bung Retorika disini .
Orang ber -IMAN sebetulnya adalah memang orang orang yang kecanduan Agama, orang orang yang mempunyai tingkat Religius yang tinggi, namun apa daya kenyataan yang kita lihat saat ini, orang orang yang “konon” ber IMAN ini? berulah anarkhis, menakutkan.
Berdasarkan Muzakaroh yang pernah saya melalui orang orang yang faham soal agama Islam (orang A’lim), ada empat Kriteria orang ber -IMAN :
1. Ibadah
Orang ber IMAN akan selalu disibukkan dengan ibadah, seperti sholat berjemaah di mesjid 5 waktu, sholat sunnat di rumah nya, sibuk berdzikir dan ber Tilawat Al-Quran.
2. Mua’malah
Orang Ber IMAn akan ber Muamalah, berniaga, berusaha mencari nafkah, bekerja dengan cara cara yang diridhoi oleh ALLAH, dan niat usahanya ini adalah untuk mendukung dirinya agar senantiasa taat kepada perintah ALLAH.
3. Mua’syaroh
Orang ber IMAN akan ber Muasyaroh, bergaul dengan saudara nya atau temannya dengan lemah lembut (mahabbah), memperlakukan semua makhluk ciptaan ALLAH dengan kasih sayang.
4. Akhlaq
Puncak orang ber IMAN adalah Akhlaq nya, tingkah lakunya, dia akan menjadi orang yang menyenangkan, diterima dalam pergaulan dimana pun baik sesama Muslim mau pun dengan sesama ummat lainnya.
Adapun definisi definisi yang sempat dilontarkan oleh bung guhPraset, bung retorika, bung faridh, tentang orang ber IMAN dan ber Agama kayaknya tidak seperti itu koq, saya berani mendebat, itu bukan definisi yang benar tentang orang ber IMAN, walau pun KTP nya, atau pengakuannya berdasar KTP dia ber IMAN, itu sebetulnya cuma keliahatan nya saja atau sepertinya saja ber IMAN.
Bukan salah mereka membuat definisi seperti itu, karena orang orang dengan Kualitas IMAN prima dan sempurna memang sulit ditemukan saat ini, orang orang dengan kualitas IMAN sempurna adalah orang orang terdahulu seperti yang ALLAH maksud dalam Surat At-Taubah ayat 100 “Generasi pertama dari kalangan shahabat Muhajirin dan Ashor serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridla kepada-Nya”.. Mereka adalah Sahabat – sahabat Nabi Muhammad saw.
Kira nya orang orang ini pantas kita jadikan contoh, ditengah krisis keyakinan kita, ditengah hilangnya keyakinan kita akan solusi dahsyat yang ditawarkan oleh kekuatan AGAMA dan IMAN.
Dan Alhamdulillah, atas izin ALLAH jua, ditengah suasana ummat yang sedang kehilangan arah ini kami sekeluarga sedang belajar mencontoh orang orang ini, dan kami akan terus bertahan dengan keyakinan seperti ini Insya ALLAH, sampai mati …. sampai anak cucu…. sampai kiamat….
Dan kami menawarkan untuk berbagi, bagaimana menjalani semua ini…….
Tembusan ;
Untuk ariss_, DB, landy, agorsiloku, luthFi
*) Diupdate 1 kali

Maret 24, 2008 pukul 8:10 am |
Merujuk pengertian kata IMAN dalam Kamus Besar Bahasai Indonesia : [n] 1). kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dsb; 2). ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin;
Jadi memang wak, banyak diantara kita sering kali rancu dalam memahami makna iman. Ada yang beranggapan bahwa orang beriman hanya memikirkan dunia akhirat saja sehingga selalu berseberangan dengan orang-orang yang dianggap tidak beriman. Padahal masalah iman adalah bersifat individu :
Saya justru senang wak .. ketika banyak teman-teman menanggapi sinis tentang keimanan, justru keimanan kita sedang dipertanyakan. Paradox memang. Sama hal-nya ketika bunda Teresa mencari cahaya ilahi, justru dia dapati dalam ‘kegelapan’ .. sama hal-nya ketika orang memandang sinis tentang keimanan, justru disitulah keimanan kita sedang diuji.
Saya jadi ingat lagu Raihan wak .. yang lirik-nya kira-kira begitu : “iman tak dapat diwarisi, iman tak dapat dijual beli.” .. semoga perbedaan-perbedaan yang ada membuat iman kita justru semakin kuat.
Maret 24, 2008 pukul 8:22 am |
assalamualaikum,wr,wb.
salam kenal….
saia bingun loh mas ama mereke2 itu…
sebenrnya merak2 itu gmn seh jalan berpikirnya???
disetiap tulisannya pasti ajah terasa kebencian terhadap Islam…kerasa bgt…
tp mereka ga ngaku…klo meraka benci Islam…padahal kerasa….
terimakasih…
maaf kepada yang merasa tersinggung…
oke…itu hanya pendapat….
wassalam….
Maret 24, 2008 pukul 12:24 pm |
gejala orang-orang semacam itu mirip dengan orang-orang dalam teori jendela pecah (broken windows theory).
Gambarannya begini: seperti: sebuah rumah, jendelanya dilempari batu oleh pihak tertentu. Tentunya jendela itu menjadi pecah. Tapi ternyata pecah jendela itu tidak ada komentar dari yang punya rumah atau orang sekitar. maka dilemparlagi pyaaar… pecah, dan tak ada lagi komentar. Bila sampai pada kondisi ini orang yang lalu-lalang di sekitar rumah itu pasti berpikir, o0o itu rumah kosong. Mungkin beberapa dari mereka juga ikut melempari jendela rumah tsb.
Kondisinya sama kan, mereka itu lah orang-orang yang giat melempari jendela rumah (baca:Islam), hingga orang Islam akhirnya tidak peduli.
contoh lain yang OOT. Dulu beberapa saat lalau ada Film Buruan Cium Gw (padahal gara-gara adegan ciuman) yang diboikot dan dilarang beredar. Banyak ulama dan umat Islam yang mendukung aksi tersebut. Nah, coba lihat sekarang. Film dewasa dengan adengan erotis beredar keras dan tak sepi peminat. Sebut saja Film jakarta Undercover, XL, Kawin kontrak dsb.
Sungguh itu semua mirip dengan Broken windows theory.
Maret 24, 2008 pukul 2:14 pm |
Saya rasa kalau orang beriman adalah orang yang kecanduan agama saia rasa justru nanti maknanya kebalik …
Jadi negatif !
sama seperti sorang yang kecanduan kecepatan dengan pembalap. Kecanduan kecepatan cenderung bersikap fanatik buta tapi tidak produktif. Mereka hanya mengutamakan “kecepatan tanpa berpikir jauh mengenai keselamatan dan keamanan orang lain.
tetapi pembalap, mereka mempelajari baik teori dan praktek secara benar serta berlatih keras rutin ditempat semestinya, mendapat penghasilan dan mampu menjadi role model di masyarakat.
sama seperti orang kecanduan agama : cenderung menafsirkan agamanya sendiri tanpa berpikir jernih maupun mempelajari dasar2 agama secara benar! cenderung egois karena tindakanya maupun pelaksanaanya tidak didukung pengetahuan yang jelas.
sedangkan orang ber-iman adalah orang yang memahami agama, menjalankan agama secara baik dan benar cenderung menjadi contoh positif di masyarakat tau lingkunganya.
itulah bedanya antara PECANDU dengan seseorangan yang PRODUKTIF !
Maret 24, 2008 pukul 3:08 pm |
@RETORIKA
Assalamualaikum
he he he
begitu kah?
Maret 24, 2008 pukul 5:28 pm |
assalamualaikum..
salam Kenal Buat Wak somad
#syahbal
salam kenal juga buat mas.
kebetulan saya tidak terlalu lama liat komen2 dari temen yang nada postingannya membenci Islam, tapi dalam hati mereka masing hanya Allah Yang tau.
yang jadi pertannyaan buat saya :
1. apakah mereka pernah masuk islam trus keluar karena tidak sanggup dengan ajaran islam hingga frustasi, dan islam jadi kemarahannya ?
2. apakah dengan Ilmu, dan akal kepintaran yang mereka miliki trus jadi stress, dan akhirnya Islam jadi pelampiasannya ?
3. mudah2 mudahan tidak, apakah mereka di bayar pihak luar ? he he he..
trims
wasallammualaikum..
Maret 24, 2008 pukul 9:29 pm |
::jika sesorang hamil, tentu merasakan kegelisahan berat.., demikian juga mereka yang mengalami kegembiraan yang amat sangat, atau kesedihan yang amat sangat…
mungkin jika belum mengalami kegelisahan dalam pencarian, tentu tidak akan mengalami apa-apa, dan tidak berbuat apa-apa, jika para Nabi, tidak mengalami kegelisahan ini, mustahil mereka menjadi Nabi, Ibrahim, dengan penuhanan bintang, bulan dan matahari, sebelum pengenalan dengan Allah, Nabi Muhammad, menyendiri di Gua hira’ sebelum kerasulan Beliau…
jadi jangan senang dulu jika belum memasuki kegelisahan iman, sebab bisa jadi itu maksud dari “bahkan mereka belum berbuat apa-apa..”
jika point 1, postingan Wak Dul Somad, disebutkan bukankah para Malaikat berkata, “bukankah kami selalu bersujud dan bertasbih..”, namun Allah lebih tahu dari yang tidak diketahui, bahkan menyuruh Malaikat bersujud kepada Adam…
Allah tidak secara harfiah menyebutkan konteks Akhlaq, persepsi orang-oranglah yang menetapkannya, yang tidak menggalinya, hanya mengikuti, dan itu menjadi statement pembenaran…namun “Laayukalifullahu nafsan Illa wus’aha lah makasabat, wa’alaiha maktasabat”…apapun ambillah bebanmu…birkan yang lain berserah diri…
Maret 24, 2008 pukul 10:18 pm |
kalau bisa sih jangan suka mnghujat agama, apalagi menyalahkan agama
karena urusan agama ini urusan nya sama ALLAH, yg punya agama
orang orang terdahulu, nabi nabi, ambiya alaihissalam bisa menyelesikan semua masalahnya dengan agama
Maret 25, 2008 pukul 7:24 am |
urusan iman dan kualitas iman manusia..Allah sajalah yang maha mengetahui, yang bisa dinilai dari manusia kualitas kemanusiaannya,habblumminannaas-nya..
Maret 26, 2008 pukul 7:30 am |
[...] senada ini sebetul sudah saya muat disini, tetapi untuk mempertegas postingan sebelum ini, maka saya posting ulang lagi dengan beberapa updating disana sini, untuk kenyamanan memahaminya. [...]
April 11, 2008 pukul 1:50 am |
Beda Iman dengan Taqwa apa dong Wak?
April 12, 2008 pukul 4:50 am |
di awali sebuah cerita (saya belum tau uin ifiksi atau benar), tapi mari kita mengambil pelajaran dariya. Suatu hari seorang santri mengantarkan kiyai berbelanja kesupermaket setelah memilih kebutuhannya lalu ia pergi ke kasir, dan menyerahkan uang selembar 100.00 tetapi se kasir berkata uang yang anda berikan palsu. Tampak gelisah dan sedih yang mendalam di wajah kiyai tersebut. Sang santri berkata pada gurunya tersebut tenanglah pak yai kita bisa mengganti uang tersebut kebetulan masih ada uang disaku saya. “Buakn itu yang ku kuatirkan tetapi ketika kita berhadapan dengan Allah di hari ahir nanti, bgaimana pertanggung jawaban kita ketikan iman kita yang kita banggakan ini tak diakui oleh Allah” jawab kia tersebut. Sangsantri pun ikkut meneteskan air matanya……
Wahai kawan masihkah kita sibuk untuk mencari kesalahan saudara kita, sedag kita tak tau apakah Allah talah ridho dengan iman kita ini?
Mari sama-sama kita memperbaiki diri kita . Mari kita sama sama berdakwah tan pa merasa diri paling benar sendiri.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahamatnya kepada hambanya yang memilki iman didalam hatinya. Amin dan membantu hambanya yang sedang menyebarkan risalah Rosulnya,, amin
April 2, 2009 pukul 8:41 am |
Persepsi orang memang susah dihadang, tapi saya salut ama bang martha. saya pernah mengalami kisah begini, saya sadar bukan ustat besar, tapi panggilan ingin menyampaikan dakwah sangat besar. lalu di ejek bahkan di gunjing di luar, di mana ke iman an penggunjing itu ? padahal dia justru yang oleh banyak orang di bilang ustad.